Postingan

Menampilkan postingan dengan label Coretan hari

Aku dan Korea-koreaan

Hola, amigos! Gue tuh gue tuh gue tuh sekarang ya gini-gini aja selama pandemic. Tapi tapi tapi untungnya gue ada tambahan kegiatan lain. Capek deh ngetik diulang-ulang.  Oke, karena selama pandemi ini gue literally di rumah aja, karena gak bisa dan gak boleh kemana-mana sama my parents. Idk mereka kaya menganggap gue something yang priceless cie. Tapi sayangnya terlalu strict sih. Lanjut. So, karena gue juga takut makin dongo di masa ini, akhirnya gue memutuskan untuk take a language course gicu. Buat sekarang sih masih korean. Ya.. still beginnerlah. Ntar kalo gue udah intermediate, pengen banget nyoba bahasa lain kayak spanish. Ih, gaya banget. Tapi serius deh,gue mulai tertarik spanish gara-gara nonton Traveler yang lagi-lagi karena ada sosok Jun Yeol disana. Uhuy. Terus cara pelafalannya spanish tuh hampir sama sih kaya Indo, cuman ada beberapa words yang beda penulisannya. Si Jun Yeol dan Je hoon yang notabene orang Korea agak kesulitan waktu mentionnya. Gue sebagai rakyat In...

Covid why

Hari ini adalah hari kesekian Covid mampir ke Indonesia. Lebih tepatnya sih bulan. Gue sebenernya juga nggak nyangka akan ada pandemi kayak gini di tahun ini. Awal tahun yang menyenangkan, tapi setelahnya malah kayak gini. Emang sih, pandemi ini bukan harapan setiap orang dan nggak bisa juga buat mencoba klik skip untuk melewati tahun ini. Setiap orang terpaksa harus melewati tahun ini yang sebagian besar akan beranggapan kalau tahun ini adalah tahun super nyebelin. Gue masih dengan kesibukan yang sama. Semuanya dilakukan serba online. Semakin hari, semakin sering bikin planning basi yang entah bakal bener-bener dilakuin setelah covid atau enggak. Planning yang paling banyak adalah soal jalan-jalan. Gue udah planning sama temen SMA, bakal ke Jogja atau seenggaknya Bandung buat jalan-jalan, camping sekaligus brainstorming soal percintaan. Gaya banget nggak tuh. Ada planning juga sama temen sd buat ke Bali atau minimal staycation di Bandung di beberapa airbnb. Gue juga udah ngetag temen ...

Hari ini dan awal tahun 2020

Halo, okey. Okey, kali ini gue mau nge-post asal karena kebetulan lagi banyak kerjaan terus males buat ngerjainnya. Jadi memutuskan untuk buat post ini. Ya, dengan kata 'gue' karena ini berasal dari lubuk hati paling dalam. Banyak banget yang udah dilalui dan belum sempet diceritain disini.  Memang, untuk persoalan di tahun 2019, mungkin akan diceritain nanti karena it is suppa duppa made me feel like 'wow'. There are so many miracles in 2019. I can pass the various obstacles very well! How lucky I am! Thank God! Udah, english nya sampai situ aja. Hari ini, gue lagi duduk di bangku. Di kamar. Lampunya agak redup berwana putih. Dibeli secara online di salah satu web yang berkerja sama dengan Informa. Bangku yang gue duduki-pun dibeli secara offline di Informa setahun lalu. Dan ketika adik gue beli beberapa bulan lalu, harganya super diskon menjadi 300k. Huh? Sekarang, masih belum mandi. Habis urus pesanan-pesanan online dan sedikit debat dengan pembeli yan...

Dia, Dilan(ku) di tahun 2014

Gambar
Di cerita ini, aku akan kilas balik ke tahun 2014. Sejujurnya, aku suka banget sama novel Dilan. Inget banget, waktu itu baca cerita 'Dilan Dilanku 1990' dari sebuah blog yang diceritakan hampir 90% isi ceritanya di tahun 2016. Sayangnya, tidak diselesaikan pengetikannya. Mungkin sengaja, biar orang-orang beli bukunya. Aku baca ceritanya di jam kuliah di kelas. Duduk nomor tiga dari depan, di paling kanan kelas. Waktu itu belum tahu Pidi Baiq siapa. Cover bukunya aja nggak pernah tahu, yang ternyata sering dilihat di Gramed. Saat itu, cuma mengira kalau cerita yang aku baca adalah novel jadul tahun 1990. Aku semakin mengebu untuk baca ketika menemukan sebuah puisi di suatu halaman, yang sepertinya pernah kubaca sebelumnya. MILEA 1 Bolehkah aku berpendapat? Ini tentang dia yang ada di bumi. Ketika Tuhan menciptakan dirinya Kukira Dia ada maksud mau pamer Setelah diingat-ingat, ternyata aku pernah mendapat puisi itu di tahun 2014, dari seorang teman satu k...

Cinta ngalor ngidul

Gambar
“Dir ada temennya tuh!” teriak tetanggaku yang kebetulan lagi kerja di rumah untuk memperbaiki beberapa bagian pintu yang belum sepenuhnya jadi. Aku enggak tahu itu teriakan panggilannya yang keberapa. Yang jelas aku langsung buka mata, menyahut, lalu jalan ke luar kamar menuju ruang tamu. Dari jendela, aku bisa lihat temanku yang berbedan lebar, tapi tinggi. Dia lagi berdiri sambil melihat layar handphone. Sebut saja dia Edde. “Masuk, De, lewat pintu samping. Pintu ini dikunci.” Kataku setengah berteriak sembari berjalan ke pintu samping. Aku disambut dengan omelan Edde ketika aku menyambutnya dengan tertawa. “IH LU GIMANA SIH, GUA TELFONIN BERKALI-KALI! GUA NUNGGU DI DEPAN DARITADI!” “Hahaha… Gua ketiduran, De, ini aja baru bangun.” Jawabku mengarahkannya ke kamarku yang terdapat sebuah jam disudut kanan ruangan. Jarumnya mengarah ke angka 10. Padahal sudah jam 11. Edde saat itu berniat ingin mengembalikan buku perpustakaan kampusku yang sempat dipinjam oleh...

Tamu berisik

Gambar
Sekitar 120 hari sudah terlewat. Terhitung dari hari terakhir aku cerita di blog ini. Banyak berita baru di tivi, yang tivinya pun baru pula dibeli  ibuku beberapa bulan lalu secara online. Ada juga gossip baru dari akun si minceu, sampai beberapa orang baru yang bermunculan terus menerus disekitarku. Cukup banyak tamu yang datang ke aku. Cukup banyak pula sikap yang aku kasih ke mereka dengan gaya yang berbeda. Nggak sesuai fisik. Sesuai sikap, sifat dan mood ku. Gaya pertama : Kadang aku pura-pura nggak ada dirumah. Sebelumnya titip pesan ke batang pohon jambu bol di depan rumah. Aku juga kasih beberapa pesan yang berbeda ke tiap-tiap tamu. “Bilang ke dia kalau aku keluar kota.” “Bilang ke dia kalau aku pindah rumah.” “Bilang ke dia kalau aku lagi mimpi terus nggak kedengeran.” “Bilang ke dia kalau aku lagi baca koran terus nggak melihat” “Bilang ke dia kalau aku lagi tenggelam.” “Bilang ke dia kalau aku sudah punya orang.” Pesan yang terkah...

Patah Hati terhebat

Gambar
Akhirnya aku bisa ceritain hal ini. Aku juga mengetik cerita ini di toko ibu biar nggak terlalu kebawa sedih. Ku ketik di note hape sambil duduk di karpet kecil. Aku lupa - lupa ingat kejadiannya. Tapi aku coba mengingat lagi hal penting maupun sepele didalamnya. Ini terjadi di tahun 2015, bulan Oktober. Dan sama sekali nggak aku sangka, di luar dugaan. Maaf ya kalau nggak jelas atau membosankan. Aku sudah mencoba yang terbaik. Siang sekitar pukul 13.00, aku berada di kosan teman dekat kampus, habis buat tugas ospek video kelompok. Aku menebeng dengan salah satu teman yang jalan pulangnya searah denganku. Perjalanan melebihi 9 km dengan aku yang tanpa menggunakan helm dan melewati jalan lumayan besar. Baru satu atau dua kali aku lewati jalan tersebut. Semua itu bikin aku takut, nggak seperti biasanya. Melihat ke kiri, kanan, lalu ke jalan aspal. Membayangkan bagaimana aku akan jatuh, luka berat, lalu bahkan mati. Memang berlebihan. Tapi, ya… karena aku sudah lama nggak jalan jau...

Cerita Senin

Gambar
Seminggu yang lalu ada yang nanya ke aku, "Punya tumblr?" Aku mikir sebentar. Sepertinya sih nggak punya. Dulu sempat punya. Tapi isinya foto-foto justin bieber semua. Masa aku kasih itu. Ya sudah aku jawab, "Engga." Sejak itu, aku masih terus mikir. Sepertinya aku dulu pernah buat tumblr. Nggak lama juga kok. Sekitar setahun atau dua tahun lalu mungkin. Kemudian aku coba cari di google pakai namaku. Tetap nggak ada. Nihil. Dan barusan, masih mikir lagi tentang nama tumblrnya. Aku ingat kalau dulu pernah ngomong, "1 tambah 1 belum tentu dua. Karna sepasang kekasih, kalau ada selingkuhannya, berarti hasilnya 3." Oh iya ya. TARAAA!! Akhirnya ingat nama tumblrnya! Berikut ini salah satu postingan di tumblr ku! Selamat membaca! Semoga agak kenyang! Tadi aku pergi ke tempat yang lumayan penting yang sampai bikin aku terpaksa bolos ke kampus. Padahal hari ini adalah hari pertama masuk setelah hibernasi dua bulan. Aku harus ada ditempat...

Belajar-belajar-belajar!

Gambar
Ceritanya, ini tanggal 24 di bulan April di bulan 2017.                 Aku lagi tidur di sebuah kamar ukuran sedang yang berada di lantai 3 yang ada di salah satu penginapan di Sukabumi. Jam satu entah lewat berapa, mendadak semua barang bergoyang. Hentakan tempat tidur yang beradu dengan lanta dan dentingan gelas yang menyentuh gelas-gelas lainnya memenuhi ruangan. Aku terbangun. Tiba-tiba semua gerakan berhenti. Segera aku berlari melewati tangga darurat menuju lantai dasar. Suasana masih sepi. Mungkin semua orang terlalu asik bermimpi sehingga tak menyadari. Mungkin mimpinya sedang main bola, bertemu badut atau jalan-jalan keliling eropa. Lalu, aku bertemu salah satu pekerja. Katanya, begitulah Sukabumi. Didalamnya terdapat lempeng meneyerupai wajan. Jadi, tergeser sedikitpun bisa menyebabkan gempa. Selama alarm dari pihaknya tidak berbunyi, itu berarti tidak membahayakan building. Karena mereka...

Pindah Kota

Gambar
Saat itu siang cerah. Ada awan. Ada langit. Ada matahari. Ada kasur. Ada cermin. Ada lemari baju. Ada handphone. Ada pesan. Ada emoji hati. Ada langit-langit kamar. Ada suara-suara televisi. Ada yang sedang berbunga-bunga. Itu aku. Yang sebenarnya sedang siap-siap berpesta. Mentraktir seluruh sahabat yang nantinya akan kerumah. Membeli seblak di dalam styrofoam, sate Madura dan bala-bala. Lalu aku ajak minum-minum dengan es dalam plastik dengan rasa aneka kopi untuk merayakan keberhasilanku yang akhirnya sukses pindah dari kota bunga yang sejuk. Yang hijau. Yang biru. Yang luka. Yang ada seseorang didalamnya. Yang sedang sibuk belajar dan pulang kerumah diakhir pekan. Yang sudah dua tahun berhasil bikin aku terbayang-bayang. Yang juga sekarang sudah punya orang. Akhirnya aku bisa mengepak barang-barangku dan limpahan perasaan yang sudah tujuh puluh persen sukses pindah menuju ke kemacetan pembangunan jalan layang di ciledug raya. Yang panas. Yang ...

Iya........................................

Gambar
Seorang laki-laki datang kearahku. Mataku rabun tanpa pembantu. Tak bisa lihat garis-garis tubuhnya. Garis pada tiap ujung pakaiannya. Garis pada seluruh air mukanya. Semakin dekat aku jadi paham khasnya. Lebih tinggi dariku, tapi kalah putih denganku. Oh, dia! Dir! Panggilnya. Kujawab iya. Ia berbicara beberapa kalimat. Mungkin jumlahnya belasan. Kujawab lagi dengan iya. Iya, iya, iya. Iya, padahal kudengar saja tidak. Karena telingaku mendadak cuti melahirkan. Sedang mataku sudah asik main duluan. Sama dua bola matanya pergi ke pasar perasaan. Kemudian ia minta semua angka ponsel hitam milikku. Seperti meriam dengan sumbu menyala. Perasaanku jadi meledak-ledak. Siap menerima jenis-jenis sapaan yang akan tiba. Bisa nanti malam, bisa besok pagi. Bisa juga lusa siang. Malamnya, besok paginya. Dan lusa siangnya. Layarku tak muncul tanda-tanda miliknya. Tidak ada namanya, apalagi sapaannya. Rasanya mau jongkok d...