Postingan

Pandang aku dari sebelah kanan

Dipincingkan si bola mata kiri seksama. Sedangkan satunya sengaja diistirahatkan. Sembari berkomentar dengan rumus panjang kali lebar Hei, rambutmu itu gimbal! Hidungmu pesek, bibirpun tebal. Wajahmupun juga bopeng-bopeng. Lalu mata kirinya ngebut ke sesi tengah. Sebelahnya masih tetap dipejam. Dimanjakan dengan spa ala bintang lima. Katanya lagi: Lehermu hanya 1 senti! Dadamu standar, perut buncit, kurang olahraga. Pinggulmu saja besarnya luar biasa! Masih belum puas, ia terjun bebas ke dasar. Diatas dua telapak kaki yang pecah-pecah. Bibirnya komat-kamit siap ancang-ancang. Katanya: Pahamu itu loh, seperti buto ijo! Betis raksasa, jari jemaripun bentuk jengkol. Aduh, tidak ada indah-indahnya! Belum sampai tamat, kupinjam satu tangannya sebentar. Kusetir persis diatas pipi manisnya. Menghalangi kelopak kiri yang asik lembur. Hei, biarkan aku bicara sekarang! Aku bukan hadas yang wajib disucikan dengan kiri. Pandang aku dari sebelah kanan juga.

Cinta ngalor ngidul

Gambar
“Dir ada temennya tuh!” teriak tetanggaku yang kebetulan lagi kerja di rumah untuk memperbaiki beberapa bagian pintu yang belum sepenuhnya jadi. Aku enggak tahu itu teriakan panggilannya yang keberapa. Yang jelas aku langsung buka mata, menyahut, lalu jalan ke luar kamar menuju ruang tamu. Dari jendela, aku bisa lihat temanku yang berbedan lebar, tapi tinggi. Dia lagi berdiri sambil melihat layar handphone. Sebut saja dia Edde. “Masuk, De, lewat pintu samping. Pintu ini dikunci.” Kataku setengah berteriak sembari berjalan ke pintu samping. Aku disambut dengan omelan Edde ketika aku menyambutnya dengan tertawa. “IH LU GIMANA SIH, GUA TELFONIN BERKALI-KALI! GUA NUNGGU DI DEPAN DARITADI!” “Hahaha… Gua ketiduran, De, ini aja baru bangun.” Jawabku mengarahkannya ke kamarku yang terdapat sebuah jam disudut kanan ruangan. Jarumnya mengarah ke angka 10. Padahal sudah jam 11. Edde saat itu berniat ingin mengembalikan buku perpustakaan kampusku yang sempat dipinjam oleh...

Tanita bukan martabak

Gambar
Sore itu pukul 4 sore. Tanita dan Misa sedang dalam perjalanan pulang sehabis bersenang-senang. Bersenang-senang namun tidak begitu senang. Itu menurut Tanita. Padahal hari itu adalah sebuah hari perayaan. Entah disebut perayaan berdua atau perayaan berdua tapi hanya menurut Tanita saja. Seperti biasanya, Tanita tidak mengungkapkannya soal itu. Apalagi mengungkapkan langsung ke Misa. Tanita hanya memasang tawa lepas seperti biasa. Bercanda pada umumnya. Padahal didalamnya ia merasa sesak yang amat sangat. Tanita mungkin terlalu berpikir kejauhan. Tanita mungkin terlalu banyak berharap. Tanita mungkin terlalu menjadi sensitif. Tanita mungkin terlalu lupa keadaan. Semua perasaan yang campur aduk ini akibat ulah Tanita sendiri. Mencari seluk beluk Misa hingga yang paling dalam. Mengobrak abrik seluruh kehidupan Misa hingga yang paling menyakitkan. Hingga kisah Misa dengan masa lalunya. Hingga keseluruhannya. Semuanya terlihat terlalu menyenangkan. Terlihat saling berjuang. ...

Tanita dan Misa yang Jujur

Gambar
Namanya Tanita. Umurnya 21 tahun jalan 22 tahun, tahun depan. Sedang punya kekasih yang sedang jalan 10 bulan, jalan satu tahun bla bla bla di tahun depan. Kekasih yang sangat jujur. Jujur waktu ia mengaku kalau terkadang suka memikirkan mantan kekasihnya. Iya dia mengaku ke Tanita. Sedangkan nama mantannya, Tania. Memang beda sedikit. Makanya setiap Tanita cerita ke teman-temannya soal Misa, pacar Tanita, teman-temannya kebanyakan bilang, "Hati-hati..." Iya, hati-hati pelampiasan, kata mereka. Misa mengaku kalau ia memikirkan Tania karena kekesalan akibat sikap Tania dulu. Tapi tetap saja, itu semua membuat Tanita sedikit panas di bagian mata dan dada. Seperti yang disebut sebelumnya, Misa memang orang yang sangat jujur. Ia pernah bercerita kalau Tania juga masih berkomunikasi lewat telefon video dengan saudara-saudara Misa sampai saat ini. "Kemarin Syara sebut-sebut Tania. Aku bingung kenapa, lalu tanya ke Kevi." kata Misa dengan sangat lancar melalui...

Using Zomato in Teaching and Learning English

Gambar
Technology has nowadays developed rapidly. Because of this rapidity, everything is expected to have a high digital literacy. Same as with selecting media in teaching and learning process. For us, a good medium is a medium which is not only focused on one condition and not monotonous for teaching and learning process. We have chosen a medium which is unusual for teaching and learning process. As we are a teacher in the future, our focus is to teach English with unusual media but still effective in teaching and learning process and the medium is  Zomato . Zomato is a food directory application which is used for restaurant search and discovery service. For those who do not know about the Zomato, it is actually an application to read and to write restaurant reviews, to know the exact location of the restaurant, the menu, and you are allowed to upload a picture of the food that you had tested. The reason why we choose Zomato as our media in teaching is that it p...

Tamu berisik

Gambar
Sekitar 120 hari sudah terlewat. Terhitung dari hari terakhir aku cerita di blog ini. Banyak berita baru di tivi, yang tivinya pun baru pula dibeli  ibuku beberapa bulan lalu secara online. Ada juga gossip baru dari akun si minceu, sampai beberapa orang baru yang bermunculan terus menerus disekitarku. Cukup banyak tamu yang datang ke aku. Cukup banyak pula sikap yang aku kasih ke mereka dengan gaya yang berbeda. Nggak sesuai fisik. Sesuai sikap, sifat dan mood ku. Gaya pertama : Kadang aku pura-pura nggak ada dirumah. Sebelumnya titip pesan ke batang pohon jambu bol di depan rumah. Aku juga kasih beberapa pesan yang berbeda ke tiap-tiap tamu. “Bilang ke dia kalau aku keluar kota.” “Bilang ke dia kalau aku pindah rumah.” “Bilang ke dia kalau aku lagi mimpi terus nggak kedengeran.” “Bilang ke dia kalau aku lagi baca koran terus nggak melihat” “Bilang ke dia kalau aku lagi tenggelam.” “Bilang ke dia kalau aku sudah punya orang.” Pesan yang terkah...

Patah Hati terhebat

Gambar
Akhirnya aku bisa ceritain hal ini. Aku juga mengetik cerita ini di toko ibu biar nggak terlalu kebawa sedih. Ku ketik di note hape sambil duduk di karpet kecil. Aku lupa - lupa ingat kejadiannya. Tapi aku coba mengingat lagi hal penting maupun sepele didalamnya. Ini terjadi di tahun 2015, bulan Oktober. Dan sama sekali nggak aku sangka, di luar dugaan. Maaf ya kalau nggak jelas atau membosankan. Aku sudah mencoba yang terbaik. Siang sekitar pukul 13.00, aku berada di kosan teman dekat kampus, habis buat tugas ospek video kelompok. Aku menebeng dengan salah satu teman yang jalan pulangnya searah denganku. Perjalanan melebihi 9 km dengan aku yang tanpa menggunakan helm dan melewati jalan lumayan besar. Baru satu atau dua kali aku lewati jalan tersebut. Semua itu bikin aku takut, nggak seperti biasanya. Melihat ke kiri, kanan, lalu ke jalan aspal. Membayangkan bagaimana aku akan jatuh, luka berat, lalu bahkan mati. Memang berlebihan. Tapi, ya… karena aku sudah lama nggak jalan jau...