Postingan

Aku bermetamorfosis

Gambar
Anggap aku Seekor kupu-kupu Yang bermetamorfosis Tentangmu Dari telur Ulat kecil Kepompong Jadi kupu-kupu Dari cinta Makin cinta Sangat cinta Jadi luar biasa cinta K A M U

Tidak cukup bagi kita

Tidak cukup bagi kita jika hanya sekedar Sehati, sejiwa, Setubuh, bersetubuh Mungkin kita juga Harus sedarah Agar menetap Dan jalan beriring Agar nantinya ada pisah Yang pamit baik-baik Karena waktu datang Sudah disambut baik Tak seperti sekarang Ini kita memang sedang Jalan jalan sore berdua Tapi saling membelakangi Masing Masing

Jangan terlalu serius

Katak-katak hijau berlarian Di atas permukaan air sirup rasa jeruk Menepi mereka di bibir gelas berkaki Membiarkan empat kaki basah kuyup Ikan-ikan besar berterbangan Mengelilingi langit langit dapur ibu Bertengger mereka di lampu gantung Membebaskan sirip-sirip yang kian robek Burung-burung cantik asik berenang Dari balik toples lalu ke kolong nakas Melahap cemilan kecil dihadapan Mengabaikan dua sayap yang terendam Sini, kutepuk-tepuk halus punggungmu Jagan telan bulat-bulat yang barusan Cukup bayangkan seakan itu tak semu Lalu muntahkan keyakinan dari asal-asalanku Bukan simpulan jika tak ada diskusi Mari kita koreksi kesamaan yang dipaksakan Perbaiki dugaan yang hanya menurutmu Kita saling, kita sama, dan kita sejenisnya Setelahnya, kamu bisa langsung pulangkan Aku yang sudah hampir dipuncakmu Takut-takut kamu jadi makin cinta Sedang aku membalik lembar lanjutan Maka jangan sampai kamu terlalu serius Karena aku masih membacakanmu Buku lawakan di hala...

Pandang aku dari sebelah kanan

Dipincingkan si bola mata kiri seksama. Sedangkan satunya sengaja diistirahatkan. Sembari berkomentar dengan rumus panjang kali lebar Hei, rambutmu itu gimbal! Hidungmu pesek, bibirpun tebal. Wajahmupun juga bopeng-bopeng. Lalu mata kirinya ngebut ke sesi tengah. Sebelahnya masih tetap dipejam. Dimanjakan dengan spa ala bintang lima. Katanya lagi: Lehermu hanya 1 senti! Dadamu standar, perut buncit, kurang olahraga. Pinggulmu saja besarnya luar biasa! Masih belum puas, ia terjun bebas ke dasar. Diatas dua telapak kaki yang pecah-pecah. Bibirnya komat-kamit siap ancang-ancang. Katanya: Pahamu itu loh, seperti buto ijo! Betis raksasa, jari jemaripun bentuk jengkol. Aduh, tidak ada indah-indahnya! Belum sampai tamat, kupinjam satu tangannya sebentar. Kusetir persis diatas pipi manisnya. Menghalangi kelopak kiri yang asik lembur. Hei, biarkan aku bicara sekarang! Aku bukan hadas yang wajib disucikan dengan kiri. Pandang aku dari sebelah kanan juga.

Cinta ngalor ngidul

Gambar
“Dir ada temennya tuh!” teriak tetanggaku yang kebetulan lagi kerja di rumah untuk memperbaiki beberapa bagian pintu yang belum sepenuhnya jadi. Aku enggak tahu itu teriakan panggilannya yang keberapa. Yang jelas aku langsung buka mata, menyahut, lalu jalan ke luar kamar menuju ruang tamu. Dari jendela, aku bisa lihat temanku yang berbedan lebar, tapi tinggi. Dia lagi berdiri sambil melihat layar handphone. Sebut saja dia Edde. “Masuk, De, lewat pintu samping. Pintu ini dikunci.” Kataku setengah berteriak sembari berjalan ke pintu samping. Aku disambut dengan omelan Edde ketika aku menyambutnya dengan tertawa. “IH LU GIMANA SIH, GUA TELFONIN BERKALI-KALI! GUA NUNGGU DI DEPAN DARITADI!” “Hahaha… Gua ketiduran, De, ini aja baru bangun.” Jawabku mengarahkannya ke kamarku yang terdapat sebuah jam disudut kanan ruangan. Jarumnya mengarah ke angka 10. Padahal sudah jam 11. Edde saat itu berniat ingin mengembalikan buku perpustakaan kampusku yang sempat dipinjam oleh...

Tanita bukan martabak

Gambar
Sore itu pukul 4 sore. Tanita dan Misa sedang dalam perjalanan pulang sehabis bersenang-senang. Bersenang-senang namun tidak begitu senang. Itu menurut Tanita. Padahal hari itu adalah sebuah hari perayaan. Entah disebut perayaan berdua atau perayaan berdua tapi hanya menurut Tanita saja. Seperti biasanya, Tanita tidak mengungkapkannya soal itu. Apalagi mengungkapkan langsung ke Misa. Tanita hanya memasang tawa lepas seperti biasa. Bercanda pada umumnya. Padahal didalamnya ia merasa sesak yang amat sangat. Tanita mungkin terlalu berpikir kejauhan. Tanita mungkin terlalu banyak berharap. Tanita mungkin terlalu menjadi sensitif. Tanita mungkin terlalu lupa keadaan. Semua perasaan yang campur aduk ini akibat ulah Tanita sendiri. Mencari seluk beluk Misa hingga yang paling dalam. Mengobrak abrik seluruh kehidupan Misa hingga yang paling menyakitkan. Hingga kisah Misa dengan masa lalunya. Hingga keseluruhannya. Semuanya terlihat terlalu menyenangkan. Terlihat saling berjuang. ...

Tanita dan Misa yang Jujur

Gambar
Namanya Tanita. Umurnya 21 tahun jalan 22 tahun, tahun depan. Sedang punya kekasih yang sedang jalan 10 bulan, jalan satu tahun bla bla bla di tahun depan. Kekasih yang sangat jujur. Jujur waktu ia mengaku kalau terkadang suka memikirkan mantan kekasihnya. Iya dia mengaku ke Tanita. Sedangkan nama mantannya, Tania. Memang beda sedikit. Makanya setiap Tanita cerita ke teman-temannya soal Misa, pacar Tanita, teman-temannya kebanyakan bilang, "Hati-hati..." Iya, hati-hati pelampiasan, kata mereka. Misa mengaku kalau ia memikirkan Tania karena kekesalan akibat sikap Tania dulu. Tapi tetap saja, itu semua membuat Tanita sedikit panas di bagian mata dan dada. Seperti yang disebut sebelumnya, Misa memang orang yang sangat jujur. Ia pernah bercerita kalau Tania juga masih berkomunikasi lewat telefon video dengan saudara-saudara Misa sampai saat ini. "Kemarin Syara sebut-sebut Tania. Aku bingung kenapa, lalu tanya ke Kevi." kata Misa dengan sangat lancar melalui...