Aku bermain di sebuah panggung mini. Bermain sebagai orang lain di tubuh sendiri Bermain sebagai dia yang kamu sukai. Tapi baru sebentar saja aku sudah merasa sakit. Aku bermain di sebuah kehidupan sandiwara. Dimana aku berusaha senang. Dimana aku berusaha nyaman. Tapi baru sebentar saja aku sudah tidak betah. Aku bermain di sebuah dunia tentangmu. Kau suruh aku berubah menjadi apapun. Berubah menjadi semua kebalikanku. Menghilangkan semua di diriku yang tidak kamu mau. Aku bermain di sebuah cerita cinta. Sebagai pemeran utama yang kamu idamkan. Dan kamu sebagai sutradara, pengatur didalamnya. Yang suatu saat mencari pengganti disaat bosan. Ya, Aku berharap semoga itu terjadi dengan cepat. Nadira Januari, 2016.
Got this photo from google Seorang bapak berkacamata dengan peci putih. Bajunya puth. Janggutnya juga turut putih. Mungkin luntur karena dicuci. Beliau ada di televisi pukul 21.38. Hari Rabu tanggal 12 Oktober. Masih di tahun 2016. "Orang Cina itu, orang kafir itu, Korupsinya tidak kelihatan." Katanya. Blak - blakan. Kadang orang yang terlalu agamis, berbicara sesukanya. Ditambah bawa - bawa kata Tuhan sebagai pelengkap. Dengan beberapa dalil dalam kitab. Tak peduli pendengarnya yang bukan sesamanya. Tahu pasti dia bilang begitu karena sejenisnya sudah banyak ditangkap. Banyak dipidana yang bikin penuh penjara. "Minta maafnya itu kan nggak jelas substansinya. Jadi jangan terbuai dengan 1-2 kata tersebut." Katanya lagi. Jadi, di forum tersebut sedang membahas seseorang. Yang meminta maaf karena keliru perkataan. Tapi si putih - putih malah cari masalah. Berkata yang tidak - tidak. Lalu menambah - nambahkan. Kok jadi menjelekkan setelah...
Jarak itu ada di tengah antara. Tapi kamu tetap menjajal habis ditengahnya. Dengan selembar kertas dan lekukan lekukan tinta hitam diatasnya. Tadi pagi si bapak datang ke tempatku. Membawa salah satu milikmu di antara gunung putih. Hei, ini sudah tahun 2000 lebih! Lagi-lagi kamu buatku makin tersipu! Nadira September, 2016
Komentar
Posting Komentar