Postingan

Covid why

Hari ini adalah hari kesekian Covid mampir ke Indonesia. Lebih tepatnya sih bulan. Gue sebenernya juga nggak nyangka akan ada pandemi kayak gini di tahun ini. Awal tahun yang menyenangkan, tapi setelahnya malah kayak gini. Emang sih, pandemi ini bukan harapan setiap orang dan nggak bisa juga buat mencoba klik skip untuk melewati tahun ini. Setiap orang terpaksa harus melewati tahun ini yang sebagian besar akan beranggapan kalau tahun ini adalah tahun super nyebelin. Gue masih dengan kesibukan yang sama. Semuanya dilakukan serba online. Semakin hari, semakin sering bikin planning basi yang entah bakal bener-bener dilakuin setelah covid atau enggak. Planning yang paling banyak adalah soal jalan-jalan. Gue udah planning sama temen SMA, bakal ke Jogja atau seenggaknya Bandung buat jalan-jalan, camping sekaligus brainstorming soal percintaan. Gaya banget nggak tuh. Ada planning juga sama temen sd buat ke Bali atau minimal staycation di Bandung di beberapa airbnb. Gue juga udah ngetag temen ...

Hari ini dan awal tahun 2020

Halo, okey. Okey, kali ini gue mau nge-post asal karena kebetulan lagi banyak kerjaan terus males buat ngerjainnya. Jadi memutuskan untuk buat post ini. Ya, dengan kata 'gue' karena ini berasal dari lubuk hati paling dalam. Banyak banget yang udah dilalui dan belum sempet diceritain disini.  Memang, untuk persoalan di tahun 2019, mungkin akan diceritain nanti karena it is suppa duppa made me feel like 'wow'. There are so many miracles in 2019. I can pass the various obstacles very well! How lucky I am! Thank God! Udah, english nya sampai situ aja. Hari ini, gue lagi duduk di bangku. Di kamar. Lampunya agak redup berwana putih. Dibeli secara online di salah satu web yang berkerja sama dengan Informa. Bangku yang gue duduki-pun dibeli secara offline di Informa setahun lalu. Dan ketika adik gue beli beberapa bulan lalu, harganya super diskon menjadi 300k. Huh? Sekarang, masih belum mandi. Habis urus pesanan-pesanan online dan sedikit debat dengan pembeli yan...

Dia, Dilan(ku) di tahun 2014

Gambar
Di cerita ini, aku akan kilas balik ke tahun 2014. Sejujurnya, aku suka banget sama novel Dilan. Inget banget, waktu itu baca cerita 'Dilan Dilanku 1990' dari sebuah blog yang diceritakan hampir 90% isi ceritanya di tahun 2016. Sayangnya, tidak diselesaikan pengetikannya. Mungkin sengaja, biar orang-orang beli bukunya. Aku baca ceritanya di jam kuliah di kelas. Duduk nomor tiga dari depan, di paling kanan kelas. Waktu itu belum tahu Pidi Baiq siapa. Cover bukunya aja nggak pernah tahu, yang ternyata sering dilihat di Gramed. Saat itu, cuma mengira kalau cerita yang aku baca adalah novel jadul tahun 1990. Aku semakin mengebu untuk baca ketika menemukan sebuah puisi di suatu halaman, yang sepertinya pernah kubaca sebelumnya. MILEA 1 Bolehkah aku berpendapat? Ini tentang dia yang ada di bumi. Ketika Tuhan menciptakan dirinya Kukira Dia ada maksud mau pamer Setelah diingat-ingat, ternyata aku pernah mendapat puisi itu di tahun 2014, dari seorang teman satu k...

Aku bermetamorfosis

Gambar
Anggap aku Seekor kupu-kupu Yang bermetamorfosis Tentangmu Dari telur Ulat kecil Kepompong Jadi kupu-kupu Dari cinta Makin cinta Sangat cinta Jadi luar biasa cinta K A M U

Tidak cukup bagi kita

Tidak cukup bagi kita jika hanya sekedar Sehati, sejiwa, Setubuh, bersetubuh Mungkin kita juga Harus sedarah Agar menetap Dan jalan beriring Agar nantinya ada pisah Yang pamit baik-baik Karena waktu datang Sudah disambut baik Tak seperti sekarang Ini kita memang sedang Jalan jalan sore berdua Tapi saling membelakangi Masing Masing

Jangan terlalu serius

Katak-katak hijau berlarian Di atas permukaan air sirup rasa jeruk Menepi mereka di bibir gelas berkaki Membiarkan empat kaki basah kuyup Ikan-ikan besar berterbangan Mengelilingi langit langit dapur ibu Bertengger mereka di lampu gantung Membebaskan sirip-sirip yang kian robek Burung-burung cantik asik berenang Dari balik toples lalu ke kolong nakas Melahap cemilan kecil dihadapan Mengabaikan dua sayap yang terendam Sini, kutepuk-tepuk halus punggungmu Jagan telan bulat-bulat yang barusan Cukup bayangkan seakan itu tak semu Lalu muntahkan keyakinan dari asal-asalanku Bukan simpulan jika tak ada diskusi Mari kita koreksi kesamaan yang dipaksakan Perbaiki dugaan yang hanya menurutmu Kita saling, kita sama, dan kita sejenisnya Setelahnya, kamu bisa langsung pulangkan Aku yang sudah hampir dipuncakmu Takut-takut kamu jadi makin cinta Sedang aku membalik lembar lanjutan Maka jangan sampai kamu terlalu serius Karena aku masih membacakanmu Buku lawakan di hala...

Pandang aku dari sebelah kanan

Dipincingkan si bola mata kiri seksama. Sedangkan satunya sengaja diistirahatkan. Sembari berkomentar dengan rumus panjang kali lebar Hei, rambutmu itu gimbal! Hidungmu pesek, bibirpun tebal. Wajahmupun juga bopeng-bopeng. Lalu mata kirinya ngebut ke sesi tengah. Sebelahnya masih tetap dipejam. Dimanjakan dengan spa ala bintang lima. Katanya lagi: Lehermu hanya 1 senti! Dadamu standar, perut buncit, kurang olahraga. Pinggulmu saja besarnya luar biasa! Masih belum puas, ia terjun bebas ke dasar. Diatas dua telapak kaki yang pecah-pecah. Bibirnya komat-kamit siap ancang-ancang. Katanya: Pahamu itu loh, seperti buto ijo! Betis raksasa, jari jemaripun bentuk jengkol. Aduh, tidak ada indah-indahnya! Belum sampai tamat, kupinjam satu tangannya sebentar. Kusetir persis diatas pipi manisnya. Menghalangi kelopak kiri yang asik lembur. Hei, biarkan aku bicara sekarang! Aku bukan hadas yang wajib disucikan dengan kiri. Pandang aku dari sebelah kanan juga.